Merampas asap rokok kita tapi asap dari hutan kalian pelihara

PAYUNG

Semata – mata Cuma untuk kepentingan segerombolam oknum untuk mencari untung dari sebuah propaganda.

Alangkah indah negeriku ini,dimana setiap warga Negara yang mencari kebebasan dan mencoba berkata benar dapat menghilangkan nyawanya sendiri, Orde Baru? Bukan bung, ini 2016. Kami tau carut – marutnya negeriku ini, tapi hanya dengan segelas kopi dan sebatang rokok bisa sedikit mengkondisikan libido kemarahan yang di buat kalian, uang kita kalian rampas, kebebasan kita kalian rampas dan sekarang HAK KITA UNTUK MEROKOK kalian akan segera rampas.

Belakangan ini beredar berita tentang kampanye dari perseorangan maupun lembaga – lembaga yang akan menaikan harga rokok, Entah untuk perutnya sendiri atau mencari sensasi semata, kalian seakan – akan   merampas asap rokok kita tapi asap dari hutan kalian pelihara.

Naikan saja harga rokoknya pasti kami akan mencari sendiri solusi untuk tetap mengasapi mulut kami, seperti cara kami selama ini bertahan hidup dan mengasapi dapur kami di negeri yang indah ini.

Asal kalian tahu dari Sabang sampai Merauke sekitar 30.500.000 orang menopangkan hidupnya di dinding – dinding pabrik yang seakan – akan bisa mengotak – kotakan beberapa mimpi mereka, apa kalian mau merampas mimpi mereka juga? So cool men, dan kalian perlu tau juga dari sektor industri rokok  mereka bisa menyumbang negeri ini 57 Triliun dari cukai dan pajak mereka.

Nanti mengenai demo para petani tembakau dan cengkeh, pajak negera yang turun, gulung tikarnya pabrik – pabrik rokok dan di PHK jutaan pegawainya.Itu urusan kalian guys. Kami bisa meratapi kalian dari layar tv dan mencari informasi tentang indahnya negeri ini dari layar 4 inchi sambil ngopi dan SEBUNGKUS ROKOK.

Kalian tau apa penyebabnya mereka mengkoar – koarkan kampanye anti rokok yang direferensikan oleh Negara luar , penyebabnya adalah tembakau terbaik dunia terdapat di negeri kita dan mereka mencoba untuk menghancurkan dominasi itu, Negara – Negara pesaing pastinya.

Dan akhirnya mereka mencoba memasarkan rokok berbasis electric yang banyak terlahir dari Negara CINA  yang sekarang belum maximal di pasar global,lalu mereka mencoba menyerang Negara – Negara yang menghasilkan tembakau terbaik di dunia, untuk ini negeri kita tidak sendiri, di antaranya ada Australia , Brazil dan Mexico. Dengan alasan tertentu mereka melarang product yang satu ini dilarang masuk ke negaranya.

Kalau mau menekan jumlah perokok di Indonesia gampang caranya, Kalian tinggal beberkan fakta yang ada “57 ribu perokok Indonesia meninggal setiap tahunnya, nomor urut berapa kalian nanti?”

What’s Up Mamen. Disini saya tidak membela pihak A atau pihak B , tulisan berikut hanya pendapat saya pribadi, toh ini hanya tentang ROKOK jangan sampai gagal focus ya.

Disini saya masih MEROKOK dan berfikir jernih, Kalaupun dengan pembeberan ini saya banyak di kecam,saya akan diam, tapi harus kalian ingat, KITA AKAN BERKALI DAN BERGENERASI.

Palembang, 24 Agustus 2016

Setetes embun

Seperti biasa di pagi hari ini saya mempersiapkan untuk agenda – agenda yang harus saya selesaikan walaupun di akhir pekan yang sangat dingin, tapi di pagi hari ini berbeda dengan pagi – pagi sebelumnya,tetesan air hujan dan dinginnya pagi ini seakan – akan membuka mataku lebih lebar dari biasanya,hiruk pikuk dan bisingnya kendaraan yang sangat melekat dengan kesehariankupun tak terasa lagi.

Suasana seperti ini mengingatkanku tentang damainya tanah kelahiranku, sawah, gunung,  dan pantai sangat akrab sejak aku lahir. Ingatanku pun seakan di paksa berputar ke  masa kecilku, yang kata orang indah dan penuh kasih sayang, tapi tidak bagiku, masa kecilku penuh orang – orang asing yang setiap hari selalu menyuapi dan memandikanku.

Dalam hati kecilku pernah bertanya lirih “dimana sosok ayah dan ibu yang teman – temanku selalu di perbincangkan?”, pada saat itu hidupku selalu berkecukupan dan lebih dari teman – temanku yang lain,tapi ada yang kurang bagiku,sosok tangan kokoh dan hati yang lembut tak pernah menyapaku di pagi hari dan tak pernah pula jejak kakinya mengantarku ke gerbang sekolah.

Menginjak usia kepala dua saya coba berdamai dengan hati kecilku yang selalu berontak dan mengingatkanku dengan masa lalu,tapi di pagi hari ini masa itu terlintas lagi seolah – olah mengajakku kembali di masa itu.

Dalam sela – sela kegiatanku yang cukup padat aku coba merenung dan berdamai dengan hati kecilku, mencoba menghilangkan dan mau mengingat masa itu lagi, mungkin dari situ hobi ku berpetualang di negeri ini di mulai,berpindah pulau ke pulau yang lain.

Delapan belas bulan sudah saya mendarat di kota pempek ini, banyak sekali yang aku pelajari dari budaya dan masyarakat sekitar. Seolah – olah mereka mengajari saya tentang realita hidup yang sangat nyata.

Palembang, 21 Agustus 2016

MIMPI SI BUAH HATI

Semakin besar dan berkembang kota yang kita tempati,semakin besar pula tenanagamu terkuras untuk mencari setetes peradilan”

Kita mesti menerima kenyataan. Tapi kita tidak bisa menghentikan kebiasaan bermimpi, tapi itu adalah suatu kewajiban seseorang untuk tetap bertahan hidup, bahkan seseorang bisa menjadi pahlawan sejarah hanya dengan bermimpi untuk memakmurkan negerinya.

Tapi di dalam negeri yang kaya dan beraneka ragam budaya ini, apakah kita mampu untuk tetap bertahan hidup ?.Coba kita sejenak renungkan tentang peradilan di negeri kita yang kaya akan SDA (Sumber Daya Alam).

Suatu keadilan tercipta karena adanya saling toleransi dalam konteks Agama, Ras,dan Budaya, menurut saya. Saya baru menginjak usia kepala dua,dalam usia ini saya mencoba berpetualang di negeri yang saya cintai, mulai dari pulau satu ke pulau yang lain.

Indahnya negeri ini sangat saya rasakan, mulai dari hiruk pikuk suasana pasar sampai bisingnya kendaraan bermotor. Kisah ini akan saya butirkan dengan sederet rima.

Tujuan kita hanya satu ibu, untuk kebebasan

Lumuri buah hatimu ini dengan sesetes doa yang selalu kau panjatkan kedapa yang Esa

Agar anakmu tak termajinalkan oleh segerombolan perut buncit

Balut tanganku dengan rima yang engkau nyayikan setiap malam

Kelak aku akan menghunuskan pedangku terakhirku di se onggok daging kapital  dan bersimpuh di kakimu

Itu tanda baktiku kepadamu, seperti tutur katamu setiap malam yang selalu Engkau dongengkan kepadaku

Buah hatimu akan selalu haus akan doa yang memberkati setiap jejak kakiku yang melekat di negeri ini

Engkau bekali aku dengan pedang panjang yang bermata dua yang kelak akan menjelma malaikat atau iblis

Saya akan berkali dan bergenerasi sesuai dengan perkembangan jaman ”

SANG KAPITAL

 

Dunia di genggam dan di kendalikan segelintir kapitalis
Mengais dan menggrogoti tubuh kita dengan bengis

Seperti HIV me – replikasikan serdadunya untuk CD4
Perlindungannya di rancang khusus untuk sanak dan saudaranya

Jangan pernah berharap bila kau jelata untuk mengais setetes simpatik
Moral di seragamkan,dan di jajankan sesui porsi kalian


Kami berpotal di balik meja – meja
Kami mengendus di selangkangan penuh lendir

JIKA KAMI DATANG……
Siapkan demokrasi yang setiap saat akan kami anal………..

SEBUT SAJA MAWAR

SEBUT SAJA MAWAR Part 1

Menulis atau membaca tanpa kita sadari adalah suatu bentuk luapan emosi kita yang suatu – waktu akan menyayat hati seseorang yang terbuai dengan rima penuh satir”

Demikianlah sedikit kata – kata dari sepercik nikmat Tuhan yang saya sebut  “ Imajinasi ” ,

“Rumahku adalah surgaku,”  begitu para teladan sering menyebutnya, alangkah indahnya kita bisa bersama dengan Ayah,Ibu dan beberapa saudara kandung kita  di suatu istana sederhana yang kita sebut rumah,tapi tidak untuk gadis kecil malang ini.

Dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara,dan sebut saja dia mawar. Mawar adalah gadis pintar di kelasnya semasa dia sekolah, dia sering juara kelas dan beberapa olahragapun dia kuasainya ,dia adalah sosok terang dalam kegelapan dari keluarga kecilnya.Bukan itu saja prestasi yang ditorehkannya, dia adalah sosok atlet   volly yang tak di ragukan lagi kemampuanya,dua adiknya pun tak lama ini mengikuti jejaknya dan tinggal di asrama atlet “biar meringankan beban mamaku” katanya sambil tersenyum dan tatapan yang tajam.

Dengan izin dan dorongan yang kuat dari mamanya dia berniat untuk meringankan beban yang mamanya pikul sendirian, “papaku sudah lama pergi dan jarang sekali pulang,belum tentu tiga tahun sekali dia pulang” kata dia sambil tersenyum lagi dengan tatapan yang tajam tentunya,kini dia terpaksa menumpang beban yang tak pernah terlintas di benaknya sedikitpun.

Mawar berusha untuk menjadi teladan untuk adik – adiknya,walaupun umur mawar kini masih menginjak angka belasan.Disuatu malam mamanya meminta untuk dia meringankan bebannya yang tak mungkin dia tompang sendirian,dan anak itu menjawab “baiklah mama, pasti mawar akan bantu dan sedikit meringankan beban mama” katanya sambil tersenyum manis.esok harinya mawar di bawa mamanya ke perusahaan yang dulu mamanya pernah bekerja.

Disana mawar langsung melalui tahap interview  oleh calon atasanya langsung,seperti biasa ada beberapa pertanyaan yang keluar dari orang bersosok rapi dan berdasi dengan rambut yang klimis dan tentunya dengan sedikit perut yang buncit.

“Selamat pagi dek,tolong perkenalkan dirimu terlebih dahulu”

“Nama saya mawar pak,dan umur saya delapan belas tahun”

“Adek sebelumnya pernah kerja diamana?”

“sebelumnya saya mohon maaf,saya belum ada pengalaman kerja dan saya baru lusus sekolah menengah ke atas”

“jujur saja di perusahaan ini sangat sulit untuk menerima karyawan/karyawati dengan lulusan SMA dan belum berpengalaman”

Dengan mata yang sedikit melirik kebawah pria itu berceletuk dengan spontan.”Tapi tenang saja dek nanti akan saya perjuangkan dan tunggu kabar selanjutnya”.

Kata – kata yang biasa terlontor dari mulut manis sosok rapi dan berdasi yang sering ber onani di hadapan jelata yang berusaha menyangkutkan mimpi – mimpi kecil mereka di tembok – tembok kokoh kota besar.

Mawar berjalan keluar pintu kantor dengan kaki yang rapuh dan mata yang kosong,seakan – akan mimpi untuk meringankan beban mamanya terhenti dengan batasan strata pendidikan yang di negeri ini belum tentu berpengaruh untuk pribadi seseorang.

Malam itu mawar duduk sendirian di depan rumah dan menatap bintang yang seakan – akan enggan untuk menyinari hatinya di malam itu,dia berdoa semoga suatu saat aku bisa membahagiakan mama dan adik – adikku. Tak lama kemudian mamanya menyapa dengan lembut “ayo anakku masuk ke dalam diluar udara dingin sekali” lalu mamanya menggandeng tangan lembut yang di kandungnya selama Sembilan bulan.

Sesampainya dalam kamar mereka tertawa gembira seakan beban – beban yang memaksa untuk di pikul itu hilang dan pecah oleh canda tawa mereka.tiba – tiba mawar berceletuk kepada mamanya di tengah – tengah suasana hangat candanya. “mama apakah kita bisa berkumpul lagi dengan papa? ” mamanya terdiam dan hanya melemparkan senyum manis yang sekarang di warisi oleh mawar.

 

Palembang, 06 Agustus 2016